Kenapa Kita Terus Berpura-pura Normal?
Dunia mendorong kita untuk tampil utuh, padahal kepala kita retak oleh kebisingan. Kita dipaksa tersenyum, seakan hidup ini katalog IKEA: rapi, teratur, dan penuh instruksi yang katanya mudah. Tapi manusia bukan lemari yang bisa dipasang dalam 20 menit. Kita lebih mirip puing runtuhan: berserakan, tak simetris, dan kadang harus diinjak dulu baru sadar bentuknya.
Aku menulis ini bukan untuk terlihat cerdas, tapi untuk memastikan bahwa aku masih waras. Di tengah banjir konten motivasi yang isinya nihil, menulis adalah tindakan defensif: perlawanan dari jiwa yang menolak dijadikan algoritma.